Berbagi Info Terbaik

Cepatinfo.com

Sahabat Nabi Muhammad Yang Jatuh Cinta Kepada Aisyah Istri Rasulullah

 Thalhah ibn Ubaidillah nama lengkap Thalhah ibn Ubaidillah ibn Usman ibn Kaab ibn Lu'ay ibn Ghalib ibn Fihr ibn Malik ibn an-Nadhr ibn Kinanah, al-Qurasyi at-Taimi al-Makki dan al-Madani, Thalhah adalah sahabat Nabi yang berasal dari suku Quraisy. Karena perjuangan memeluk dan menegakkan syariat Islam, Thalhah bin Ubaidillah diizinkan masuk surga oleh Allah SWT.

Thalhah bin Ubaidillah menghabiskan kekayaannya untuk kebaikan dan membela Islam dan membantu mereka yang membutuhkan. Dia sangat dermawan, dia telah memberikan begitu banyak manfaat kepada orang lain sehingga tidak sedikit orang yang menghargai kemurahan hatinya. Thalhah adalah sosok yang selalu turun dalam perang jihad, melindungi Rasulullah, membela dakwahnya, dan menyebarkan risalahnya.

Sahabat Al-Hilal, tahukah kamu jika Thalhah bin Ubaidillah adalah seorang pria yang mencintai istri Nabi SAW yaitu Aisyah. Namun di sisi lain, Thalhah juga merupakan sepupu dari Aisyah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Sa'ad yang berasal dari Abu Bakar bin Muhammad bin 'Amr bin Hazm, dan ditulis oleh Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul diriwayatkan bahwa pada suatu hari Thalhah sedang berbicara kepada 'A'isyah, istri Muhammad SAW yang sangat ia cintai.

Ketika sedang berbicara dengan Aisyah, Rasulullah datang dengan wajah yang tidak disukai. Rasulullah cemburu, saat itu Rasulullah langsung menyuruh Aisyah masuk ke kamar tapi tidak terang-terangan, Rasulullah menggunakan bahasa isyarat, Aisyah mengerti.

Atas kejadian itu, Thalhah merasa malu, dia berpamitan dan bergumam di dalam hatinya sampai bersumpah akan menunggu Muhammad sampai meninggal untuk menikahi Aisyah. “Dia melarang saya berbicara dengan Aisyah. Padahal dia sepupuku. Demi Allah, seandainya dia meninggal, aku tidak akan membiarkan orang lain mendahuluiku melamar Aisyah.”

Atas perkataan Thalhah tersebut, Allah SWT menurunkan firmanNya dalam QS Al-Ahzab ayat 53 yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ ۖ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ ۚ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ ۚ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah Nabi kecuali kamu diperbolehkan makan tanpa menunggu waktu untuk memasak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan jika kamu telah selesai makan, keluarlah. tanpa kesenangan memperpanjang percakapan. Lihatlah, itu akan mengganggu Nabi, dan dia akan malu padamu, dan Allah tidak malu dengan kebenaran. Ketika Anda meminta sesuatu kepada mereka (istri Nabi), maka mintalah dari balik layar. Cara itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan janganlah kamu menyakiti Rasulullah, dan janganlah kamu menikahi istri-istrinya selama-lamanya setelah wafatnya. Sesungguhnya perbuatan itu adalah (dosa) besar di sisi Allah.”

Ketika surat itu dibacakan dan Thalhah mendengar surat itu, dia menangis, dia malu kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Setelah mendengar surat tersebut, Thalhah mewujudkan kecintaannya yang besar kepada Aisyah dengan hal-hal yang lebih bermanfaat, seperti mendonasikan hartanya, membebaskan budaknya, dan menunaikan umrah dengan berjalan kaki sebagai bentuk taubat.

Sahabat Al-Hilal, seiring berjalannya waktu Thalhah, juga dikaruniai cinta-cinta lain ketika cintanya kepada Aisyah tak sampai. Dia menikahi seorang wanita, dalam pernikahannya dia dikaruniai seorang putri cantik yang dia beri nama Aisyah binti Thallhah.

Share: